Selasa, 4 September 2012



DUNIA DILAKNATI.... Kecuali...


Hadis riwayat Imam Tirmidzi:
“Dunia itu adalah dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikrullah ‘azza wajalla, dan sesuatu yang dikasihi Allah, atau orang alim ataupun orang yang belajar.”
(Sunan At-Tirmidzi: 2244)

Pengorbanan Luar Biasa Mereka yang Cinta Buku dan Ilmu

Ulama besar itu sedang jatuh sakit. Parah. Seluruh tubuhnya terasa payah. Persendiannya ngilu dan tulang-tulangnya kaku. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak kuasa bergerak dan beranjak sedikit pun dari sana. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya untuk terus berbagi ilmu, membaca dan menelaah buku-buku, serta berdiskusi dengan murid-muridnya.

Dokter yang didatangkan untuk mengobatinya, pun begitu prihatin melihat keadaannya. Setelah memeriksanya, dokter itu berkata, “Aktifitas Anda yang banyak membaca dan berdisukusi tentang ilmu, telah membuat sakit Anda semakin berat.”

“Tapi, aku tidak bisa bersabar untuk melakukan itu. Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka perasaan itu akan mampu menyembuhkannya dari penyakit?” kilahnya dengan nafas sedikit tersengal.
“Tentu,” jawab sang dokter singkat.
“Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu,” tambahnya memberi alasan.

Tak brp lama, dengan tetap menuruti kata hatinya untuk terus membaca, ulama besar itu pun kembali sehat seperti sedia kala. Dia mengobati sakitnya dengan membaca. Melihat keadaannya yang membaik, dokter yang pernah merawat dan menasehatinya, hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”

Ulama besar tersebut tak lain adalah Ibnu Taimiyah; sosok yang semasa hidupnya sangat lekat dengan kesederhanaan, kemiskinan, dan penjara, tetapi tetap ceria dan selalu bersahaja. “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih merasakan kenikmatan hidup dari pada Ibnu Taimiyah. Meskipun hidupnya dalam kesederhanaan, kemiskinan, tahanan dan di bawah ancaman, tetapi ia adalah orang yang paling lapang dadanya, sehingga wajahnya selalu terlihat berseri-seri,” tutur salah seorang muridnya, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, menceritakan tentang pribadinya.

Sederhana dan bersahaja mungkin sebuah sikap yang memang sangat lekat pada diri seorang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang lebih menarik dari sekadar itu, adalah semangat keilmuannya yang tinggi. Semangat telaah dan bacanya yang hebat, yang mampu meringankannya dari rasa sakit yang menimpanya. Sejak kecil semangat itu telah ada, dan tak pernah menyusut karena terpengaruh oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi. Dia tak pernah merasakan makanan enak dan lezat, dan hanya memakan apa adanya baik di pagi hari maupun malam hari. Dia juga tak pernah surut meski harus bersua dengan beragam cobaan dan siksaan. Ia hanya sibuk membaca dan mendalami banyak macam ilmu. Ia rajin belajar, menulis dan meriwayatkan hadits sehingga ia mampu menghimpun hadits-hadits yang tak dimiliki orang lain. Selain belajar, ia juga menyebarkan ilmunya. Ia mengajarkan hadits di beberapa daerah seperti Damaskus, Mesir dan Iskandaria. Meski di daerah-daerah itu ia menghadapi bermacam siksaan dan cobaan. Bahkan ketika di Damaskus lah, ia sempat ditahan dua kali hingga akhirnya wafat di sana tahun 728 H, di dalam penjara.

Ibnu Taimiyah seolah tenggelam dalam ilmu. Karena ilmu ia kemudian tidak menikah. Dan karena ilmu; semangatnya menelaah dan menulis, ia mampu menghasilkan lebih dari 500 jilid buku dari sekitar 350 judul, yang menyebar di mana-mana. Cintanya pada ilmu dan buku, lebih kuat dari cinta kita pada apapun yang sangat kita sukai. Dan mungkin dialah contoh yang ingindigambarkan Ibnu Qayim dalam sebuah ungkapannya, “Adapun para pecinta ilmu, mereka lebih terpesona dengan ilmu melebihi terpesonanya seorang laki-laki kepada kekasihnya. Dan kebanyakan diantara mereka tidak pernah disibukkan oleh seseorang (yang dicintainya) seperti mereka disibukkan dengan imu.”

Ibnu Rajab pun memuji sikapnya yang memilih membujang dari pada menikah. Dia berkata, “Inilah dampak positif dari membujang, yang akan terus bermanfaat bagi para penuntut ilmu dan para ulama sepanjang masa. Betapa banyak hasil karyanya yang tersebar di seluruh dunia Islam sejak zamannya hingga hari kiamat nanti, Insya Allah.”

Kecintaan pada ilmu dan sarana-sarananya; membaca, menulis, dan membelanjakan harta demi buku, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Salah seorang murid Ibnu taimiyah, Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi, pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak penrah letih untuk terus menelaah dan mencari.”

Mereka, ketika bertemu dengan sebuah buku yang belum pernah mereka baca, seakan menemukan harta karun yang berharga. Ibnul Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.”

Suatu saat, dia juga pernah mengatakan, “Aku telah menyaksikan deretan kitab-kitab di Madrasah Nizhamiyah. Ternyata, kitab-kitab yang terpajang di sana mencapai 6 ribu jilid buku, diantaranya ada kitab-kitab Abu Hanifah, kitab-kitab Al-Humaidi, ada kitab-kitab dari guru kami Abdul Wahab bin Nashir, kitab-kitab Abu Muhammad Al Khasyib, dan banyak lagi yang lain, dan aku merasa bahwa sudah pernah membacanya. Kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid, tetapi aku masih terus mencari.”

Ulama kita adalah orang yang sangat mencintai buku, dan penuh semangat membacanya. Buku adalah barang mahal bagi mereka, yang selalu harus ada dan tersedia, dengan cara apapun mereka mendapatkannya. Muhammad bin Ya’kub Al-Fairuz Abadi, misalnya. Setiap kali bepergian ia selalu membawa bukunya. Ia selalu membaca dan berpikir. Terdorong oleh kecintaan yang begitu kuat, ia pernah membeli buku dengan emas seharga 50 dinar.

Sedang Al-Jahizh, salah seorang sastrawan ternama, setiap kali mendapatkan buku ia selalu membacanya dari awal hingga akhir. Ia sangat mencintai buku. Ia bahkan menyewa toko-toko buku dan menginap di sana untuk menelaah.

Ada lagi Abul ‘Ala Al-Hamadzani. Ketika kitab-kitab Ibnul Jawaliqi dilelang di kota Baghdad, saat itu ia turut hadir. Penjual menawarkan satu paket dengan harga 60 dinar. Abul ‘Ala pun membelinya dengan menangguhkan pembayaran hingga hari Kamis berikutnya. Tenyata, selang waktu itu dia gunakan untuk kembali ke kampung halamannya. Di sana ia jual rumah miliknya dengan harga 60 dinar untuk membayar harga buku tersebut. Kisah Abul ‘Ala sangat mirip dengan kisah Ibnu Najar yang menggadaikan rumahnya seharga 500 dinar untuk digunakan membeli buku.

Mereka melakukan itu, tentu karena mereka memandang bahwa buku dan ilmu itu jauh lebih berharga dari apa mereka keluarkan. Mereka lebih mencintai tumpukan buku dari pada tumpukan harta. Merekalah yang dikatakan Al-Jahiz dalam sebuah ungkapannya, “Orang yang kehabisan nafkah dan harta benda yang dia keluarkan untuk mendapatkan buku yang dia inginkan, lebih dia sukai dari pada membeli seorang budak perempuan yang cantik, memperturutkan syahwatnya membuat bangunan mewah, maka dia tak akan mendapatkan ilmu yang memberi kepuasan, dan harta yang diinfakkannya tak akan bermanfaat untuknya sampai dia mengutamakan membelanjakannya untuk buku-buku, seperti seorang badui yang lebih memprioritaskan susu kudanya untuk keluarganya, atau sampai mengharapkan sesuatu dari ilmunya seperti seorang badui yang mengharpkan sesuatu dari kudanya.”

Para pecinta ilmu selalu menemukan kepuasan dalam bacaan-bacaan mereka. Jiwa mereka terasa ringan dan dada mereka terasa lapang, manakala bertemu buku dan punya kesempatan untuk membacannya.

Salman Al-Hambali, salah seorang guru Ibnu Hajar Al-Asqalani, mengatakan, “Tidur siang yang engkau tinggalkan untuk bisa membaca buku, yang tidak mendatangkan harta untukmu, maka katakanlah, “Biarkan aku (melakukan ini), semoga ku dapat menemukan buku yang bisa menunjukkan kepadaku bagaimana aku mendapatkan buku (catatan amal)ku dengan aman dan dengan tangan kanan.”

Seorang syaikh pernah berkata, “Aku ingat, suatu kali aku membeli buku di kota Riyadh setelah itu aku berjalan ke arah timur. Tapi rasanya aku tak dapat meneruskan perjalananku karena ketertarikanku yang sangat pada buku itu. tidak ada yang bisa kulakukan kecuali berhenti di jalan lalu buku itu aku baca hingga selesai seluruhnya, setelah itu barulah perjalanan aku lanjutkan.”

Dengan membaca buku mereka merasa memiliki semangat untuk terus hidup. Membaca adalah sarana menyambung nafas untuk mempertahankan eksistensi diri mereka. Sangat benar apa yang dikatakan seorang diantara mereka, “bacalah, agar engkau bisa hidup.”

Inilah potensi besar yang sebenarnya pernah ada dalam tubuh umat ini. Dulu, umat ini pernah berjaya oleh karena kecintaan mereka yang kuat terhadap ilmu. Budaya membaca dan menuntut ilmu di kalangan para ulama sangat menakjubkan. Mereka sudah bisa berdiri dengan tegak dengan segenap cahaya, saat umat lainnya masih diliputi kegelapan. Potret kehidupan mereka perlu menjadi teladan untuk kehidupan kita masa kini; mengorbankan harta u. ditukar dengan buku dan ilmu pengetahuan.

Membaca adalah kata yang menunjukkan permulaan wahyu, dan penanda lahirnya kenabian pada diri Rasulullah SAW yang menjadi penerang bagi manusia dan segenap alam. Membaca adalah titik balik paling fundamental pada perubahan sejarah kemanusiaan dari kekufuran dan kesesatan mereka, meunju cahaya iman, tauhid dan hidayah; juga dari tradisi suram kepada nilai-nilai moral, akhlak dan etika; dari kebutaan hati kepada penglihatan yang berdasarkan iman. Para pendahulu kita sangat memahami itu, dan karena itulah mereka terus membaca dan tak pernah bosan melakukannya. Mereka memiliki tradisi itu dalam kehidupan mereka dan berusaha mewariskannya kepada generasi setelah mereka.

Namun tampaknya, tradisi yang baik itu kini seakan tidak terlalu mendapatkan perhatian. Bukan hanya oleh orang-orang awam, tetapi kita dan mereka yang hidupnya sangat dekat sarana-sarana ilmu dan profesi-profesi keilmuan, juga tak terlalu mempedulikan buku, dan membacanya. Seorang syaikh berkata, “Kalau kita perhatikan para mahasiswa kita hari ini, mereka terlihat jarang membaca. Padahal sesungguhnya mereka baru memulai belajar. Aneh. Sungguh aneh. Mereka seperti merasa telah memiliki banyak ilmu. Padahal Ibnu Jauzi menasehatkan, ‘Hal yang paling baik adalah berbekal dengan ilmu. Siapa yang merasa cukup dengan ilmu yang dia miliki dan puas dengannya sehingga tidak mau mendengar pendapat orang lain, kemudian terlalu membesarkan dirinya, maka dia akan terhalang dari memperoleh manfaat. Dengan terus membaca dan belajar, akan tampaklah kesalahannya.’”

Seringkali, setelah kita menyelesaikan satu jenjang pendidikan, terkadang ada bisikan dalam hati yang mengatakan bahwa kita telah melewati fase belajar, dan karena itu tak perlu lagi membaca. Kita bahkan kerap merasa diri sudah cukup berilmu. Kita lupa, atau sengaja melupakan keadaan ulama kita dalam berinteraksi dengan ilmu, yang tidak pernah berhenti hingga ajal menjemputnya.

Ada kemalasan yang sering muncul karena kita tak menemukan kenikmatan dalam membaca. Membaca tidak menyentuh jiwa kita, sebagaimana dirasakan para ulama, di mana bagi mereka membaca adalah alat pemuas jiwa.

Secara umum, mungkin kita memang sangat jarang membaca. Tradisi keilmuan kita sangat jauh berbeda dengan para pendahulu kita; salafusshalih dan pengikut mereka. Tetapi tidak berarti bahwa semua kita benar-benar menjauhi buku. Di tengah-tengah kita, masih banyak orang-orang yang dengan kebersahajaan dan kesederhanaannya tak pernah lepas dari buku. Selalu rajin membaca, kapan pun dan dimana saja. [Sulthan Hadi, sumber: Majalah Tarbawi edisi 224]

Sumber : Portal Masjid Negara

Ahad, 19 Ogos 2012


SELASA, 19 JUN 2012


Anjakan Paradigma Huffaz



“Sungguh merisaukan apabila ada huffaz yang tidak tahu hendak ke mana” saya meluahkan pandangan.
“Itu sering berlaku, ustaz. Perasaan itulah yang banyak membelenggu pelajar semester akhir” jawab salah seorang sahabat.
Beliau turut gusar dengan perkara yang sama di kalangan rakannya.
Sudah lama saya menanti peluang ini.
Peluang untuk berwacana bersama pada Huffaz al-Quran.
Kelompok insan terpilih yang berpotensi tinggi, tetapi sebahagiannya dibelenggu oleh batasan-batasan yang dibina oleh persepsi massa.

16 Januari 2010, selepas penangguhan tarikh asal pada Ogos 2009 akibat H1N1, saya berkesempatan meluangkan sehari suntuk masa di Darul Quran Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) di Kuala Kubu Bharu.
Biar pun himpunan hasrat dan harapan di dada saya terasa dibataskan oleh tajuk yang bakal diperkatakan, namun saya tidak mahu terikat dengan tema program Bengkel Tinta Da’ie, pada hanya memperkatakan tentang teknik penulisan. Apa sahaja teknik yang bakal dibincangkan, ia hanya wasilah untuk ekspresi sesuatu yang lebih bersifat induk iaitu DAKWAH, sebagai subjek utamanya.

BEBANAN PERSEPSI

Mungkin punca kepada kaburnya perjalanan ini berkait dengan persepsi masyarakat yang menyalahi realiti. Ramai yang melihat bahawa menjadi hafiz atau hafizah, adalah satu destinasi. Sedangkan bagi seorang pelajar yang telah berjaya menyertai kelompok huffaz, dia tidak dapat merasakan bahawa dirinya tiba ke destinasi, tetapi seperti baru hendak memulakan perjalanan. Kombinasi di antara sangkaan orang ramai, dan perasaan seorang hafiz dan hafizah, telah mencipta satu beban yang berat untuk ditanggung oleh para huffaz. Mereka diberikan status sosial yang tinggi ketika mana setiap seorang berasa janggal untuk menampung status itu tanpa alat yang mencukupi.

Hakikatnya, menjadi seorang hafiz dan hafizah adalah satu fondisi yang sangat hebat. Tetapi ia bukan kemuncak cita-cita.

Secara peribadi, saya dapat merasakan betapa besarnya impak andaikata saya memulakan pengajian di peringkat ijazah sarjana muda setelah menjadi seorang hafiz. Ia adalah satu kekurangan yang telah saya hadapi, biar pun ia tidak pernah menjadi halangan untuk meningkatkan penguasaan ilmu Syariatullah.

Di dalam mana-mana subjek, keperluan menghafal dan memahami nas al-Quran, di samping nas al-Hadith dan pendapat-pendapat ulama’ yang lain, adalah perkara asas yang diperlukan oleh seorang pelajar Syariah untuk memahami satu-satu topik yang dipelajari.  Melakukan semuanya dalam keadaan bukan seorang hafiz, terasa ada kekurangan yang memerlukan mujahadah besar bagi mengatasinya. Alangkah baiknya jika saya sudah menghafal al-Quran sepenuhnya semasa kaki melangkah ke bumi Syam dahulu. Malah, tuntutan universiti kepada pelajar Syariah agar menghafal 6 juzuk al-Quran sebagai syarat graduasi yang memerlukan kami untuk melakukannya di celah-celah 46 subjek, sudah cukup memeritkan. Belum lagi pada soal mengekalkan hafalan itu selepas ujian Tasmi’.

Selesai menghafal al-Quran sebelum mula belajar Syariah, adalah satu impian yang dibayang-bayangkan oleh setiap kami, semasa dihimpit kesulitan mengimbangkan hafalan al-Quran dengan proses pembelajaran yang padat.

Tetapi itu lebih baik daripada berjaya menjadi seorang hafiz dan hafizah, namun terus terjun ke gelanggang agamawan tanpa mendapat ilmu yang cukup berkaitan dengan proses memahami nas dan Syariah secara keseluruhannya. Jadi huffaz tapi belum jadi asatizah. Menghafal al-Quran tidak pernah sama sekali sinonim dengan memahami al-Quran. Kedua-duanya memerlukan proses yang tersendiri dan tidak boleh saling menampung secara simplistik.

Di sinilah titik yang menampakkan betapa institusi tahfiz dan status huffaz di negara kita memerlukan satu anjakan paradigma yang besar.

MEMINJAM CERMIN TURKI

Sebagai perbandingan, jika dilihat ke sebuah negara yang kaya dengan huffaz seperti Turki, di negara itu tidak ada sesiapa yang digelar sebagai al-hafiz. Menjadi seorang hafiz atau hafizah bukanlah sesuatu yang dianggap pencapaian dengan status sosial, tetapi ia hanya melunaskan satu tuntutan sebagai seorang Muslim. Justeru, mindset setiap pelajar yang menghafal al-Quran bukan untuk membawa hafazannya sebagai satu aset kerjaya.  Menjadi hafiz bererti telah memiliki sesuatu yang sangat besar untuk diri sendiri, tetapi belum mempunyai apa-apa untuk orang lain. Oleh itu, mereka menjadikan hafazan itu sebagai bekalan untuk meneruskan lagi proses pembelajaran. Dengan pemikiran seperti itu, saya melihat sendiri betapa sejumlah besar mahasiswa dan mahasiswi di Ilahiyat Fakultesi adalah terdiri daripada hafiz dan hafizah. Ia menjadi satu kredit besar buat mereka semasa melunaskan pengajian di peringkat universiti.

“Kamu sudah khatam al-Quran?” itu soalan yang sering ditanya di dalam masyarakat kita.
Terutamanya kepada anak gadis sebelum naik pelamin.
Tetapi di Turki jarang sekali kedengaran orang bertanya demikian.
Lazimnya mereka akan bertanya, “kamu sudah menghafal al-Quran?”

PROSES YANG MELENGKAPI

Saya kongsikan diskusi berkenaan dengan hal ini bersama pelajar Darul Quran, agar mereka meletakkan satu azam untuk tidak mudah berpuas hati hanya dengan selesai menghafal al-Quran dan memperolehi Sijil atau Diploma yang ditawarkan, sebaliknya hendaklah disambung lagi dengan peringkat pengajian yang lebih tinggi, hingga sekurang-kurangnya berjaya memperolehi ijazah di dalam mana-mana cabang bidang Pengajian Islam, sebelum benar-benar boleh berperanan dengan baik menanggung kepimpinan Islam di dalam masyarakat.

Begitu juga dengan program pensijilan yang meletakkan sasaran program untuk melahirkan hafiz dan hafizah, yang kemudiannya disalurkan mengambil jurusan profesional (bukan Syariah), sebagai acuan melahirkan golongan Profesional Muslim, atau Profesional yang hafiz! Saya merasakan seperti ada unsur simplistik dalam meletakkan formula sedemikian rupa. Seorang jurutera yang menghafal al-Quran adalah satu kelebihan yang besar pada dirinya untuk menjadi seorang Muslim Profesional atau Profesional Muslim, asalkan hafazan itu dimasak dengan latihan formal atau tidak formal di dalam cabang-cabang disiplin Pengajian Islam yang kita sedia maklum. Tetapi untuk sekadar memiliki 30 juzuk hafalan di dalam diri, dan kemudian beralih pula ke bidang perubatan dan kejuruteraan untuk melahirkan tokoh-tokoh yang berinspirasikan al-Khawarizmi dan yang seumpama dengannya, ia kedengaran seperti satu retorik.


PROAKTIF

Justeru, kepada para hafiz dan hafizah itu sendirilah tanggungjawab bagi mereka bertindak secara proaktif dengan tidak membataskan diri kepada persepsi-persepsi itu tadi. Mereka harus mencabar diri untuk pergi lebih jauh. Jangan tunduk kepada demand yang hanya menghendaki kalian mengimamkan Tarawih. Itu besar, tetapi ada yang lebih besar menanti!
Kuasai ilmu-ilmu alat di dalam Pengajian Islam.
Kuasai juga Bahasa Arab dengan sebaiknya.
Itu jika jalan yang dipilih adalah pada mahu menjadi seorang agamawan.
Lebih cantik jika dapat dilengkapkan dengan penguasaan Bahasa Inggeris sebagai bahasa ilmu, serta kemahiran-kemahiran lain seperti ICT, pengurusan, komunikasi dan lain-lain keperluan dakwah.
Ada pun jika para huffaz mahu meneruskan pengajian di dalam bidang akademik bukan Pengajian Islam seperti kejuruteraan dan perubatan, teruskan cita-cita yang amat bermakna itu. Namun perlu ada kesediaan di minda bahawa hafazan yang telah berjaya diperolehi, masih merupakan bahan separuh masak yang perlu dicanai lagi dengan pelbagai ilmu berkaitan Syariah. Justeru di celah-celah pengajian di universiti di bidang masing-masing, carilah ruang dan peluang untuk meneruskan pembelajaran di bidang agama.

Sesungguhnya saya sangat kagum dengan disiplin dan potensi yang dilihat selama saya berada bersama para huffaz di Darul Quran. Apa yang perlu diberikan secara konsisten adalah semangat untuk mereka terus berjiwa besar dan membawa al-Quran ke massa dengan segala ruang dakwah yang menanti.

“Dan dia (Yaaqub) berkata lagi: “Wahai anak-anakku! janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu sahaja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlainan. Dan aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nyalah aku berserah diri, dan kepada-Nyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri” [Yusuf 12: 67]

Selamat maju jaya saya ucapkan kepada para huffaz al-Quran di mana sahaja mereka berada.
Semoga jiwamu sebesar al-Quran yang telah mengisi hatimu.

p/s: artikel lama oleh Ustaz Hasrizal yang sangat baik untuk dikongsi dan direnungkan oleh para huffaz terutamanya yang akan, kini, dan sudah terjun ke masyarakat. 1 artikel yang membuka sudut pandang yang baru.
PETUA IMAM GHAZALI MENCARI LAILATUL QADAR
Pesan junjungan besar Nabi Muhammad SAW adalah malam Lailatu Qadar berlaku pada satu malam daripada 10 malam bulan Ramadhan. Dan pesannya juga ianya akan terjadi pada hari ganjil dimalam2 tersebut.

Lain ulama juga sependapat dengan Imam Ghazali sekiranya awal Ramadhan jatuh pada malam:

1.    Ahad atau Rabu malam Laitul Qadarnya akan berlaku pada 29 Ramadhan.
2.    Isnin malam Lailatul Qadar dijangka akan berlaku 21 Ramadhan
3.    Selasa atau Jumaat malam Laliltul Qadar dijangka akan berlaku 27 Ramadhan
4.    Khamis malam Lailatul Qadar dijangka pada 25 Ramadhan
5.    Sabtu malam dijangka Laitul Qadar pada 23 Ramadhan.

Kata Sheikh Abu Hasan dengan mengikut petua diatas dia sentiasa dapat menghidupkan Malam Laitul Qadar. Peristiwa itu berlaku sejak dia baliq. Walaubagaimana pun, ibadah jangan sekadar dimalam yang dinyatakan diatas, buat juga ibadah pada malam-malam ganjil yang lain.

Tanda malam Lailatul Qadar: Malam yang tenang. Tidak panas dan tidak juga panas.
Siangnya pula, cahaya matahari kelihatan pucat. Pada malam itu menurut Nabi Muhammad Malaikat Jibril akan bersalaman dengan orang yang beribadah. Tandanya orang yang di salami terasa sayu hatinya dan kemudiannya secara tiba-tiba menangis teresak-esak.

Dengan demikian, marilah kita bersama memeriahkan suasana 10 malam terakhir di bulan Ramadhan berbuat ibadah kepada Allah SWT dengan penuh ikhlas dan penuh keimanan dan ketaqwaan. Mudah-mudahan kurniaan Allah yang pahalanya melebihi 1000 bulan atau 83 umur kita.

Sumber: Penawar Rindu.

Sabtu, 28 Julai 2012

RAMADHAN AL MUBARAK

DI SEBALIK IQRA

       Di bulan yang mulia ini mari kita menyingkap sedikit persoalan disebalik Iqra di dalam kehidupan manusia hari ini. Realiti umat hari ini amat sedikit yang suka membaca. Dan dari sedikit yang membaca itu pula sedikit saja yang memahami. Daripada sedikit yang memahami itu, sedikit pula yang menguasai. Dan dari sedikit yang memahami itu, hanya sedikit pula yang menguasai dan mengamalkan. Bila sedikit yang mengamalkan pasti sedikit pula yang mampu menyebarkannya.
       Bagaimana umat Islam akan membangun kalau itu keadaan dan realitinya. Sedangkan membaca itu bukan sekadar hobi tetapi suatu tuntutan dan keperluan. Tidak keterlaluan kalau dikatakan membaca ibarat oksigen bagi nafas manusia islam untuk menuju kejayaan. Sejarah telah menunjukkan bahawa manusia dibangunkan dengan roh iqra pada permulaan sejarah Islam dan kenabian Nabi Muhammad SAW. Dipermulaan sejarah yang penuh karamah itu Nabi Muhammad di tarbiyahkan dengan kalimah Iqra untuk kemudian ditarbiyahkan kepada umatnya. 

Ahad, 22 Julai 2012


PERISTIWA PENTING BULAN SYAABAN

1. PENUKARAN ARAH KIBLAT
OLEH AL-BAKRIAH
Pada awal diwajibkan perintah solat kepada umat Islam, Rasulullah SAW dan para sahabat berkiblatkan Baitul Muqaddis. Ini telah menjadi satu kontraversi pada waktu itu. Umat Yahudi telah mendakwa bahawa agama mereka adalah benar dan diredhai oleh Allah SWT kerana umat Islam telah meniru arah ibadat mereka iaitu menghadap Baitul Muqaddis.
Umat Islam telah ditohmah dengan berbagai-bagai tohmahan dan ujian. Para Sahabat RA telah mengadu kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW menyuruh mereka agar terus bersabar dengan ujian itu sehinggalah ada perintah baru dari Allah SWT. Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Mendengar tentang apa yang berlaku pada ketika itu. Allah SWT telah mewahyukan agar Rasulullah SAW mengadap ke Baitullah Kaabah.
Sebahagian ulamak sirah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW menerima wahyu perintah mengadap Baitullah pada 15 Syaaban semasa beliau mengimamkan solat. Sebahagian ulamak mengatakan pada solat Asar, ada yang mengatakan Maghrib dan ada yang meriwayatkan pada solat Isya’. Rasulullah SAW sebagai imam terus mengadap ke Baitullah dan diikuti oleh para sahabat sebagai makmum.

2. Peperangan Bani Mustaliq (Muraisi’)

Bani Mustaliq ialah salah satu puak dari kaum Yahudi. Mereka telah merancang untuk membunuh Rasulullah SAW dan berita ini disampaikan kepada Rasulullah SAW oleh seorang sahabat dari puak badwi. Peperangan ini adalah turutan dari peperangan bani Quraizah, kaum yahudi yang telah dihalau oleh Rasulullah SAW keluar dari Madhinah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Syaaban, 5H. Pasukan kaum muslimin dapat melumpuhkan pasukan Bani Mustaliq.
Sebagian pasukan Bani Mustaliq ada yang ditawan, termasuklah salah seorang putri pemuka Bani Mustaliq yaitu Barrah, yang nama lengkapnya adalah Barrah binti al-Harris bin Dirar bin Habib bin Aiz bin Malik bin Juzaimah Ibnu al-Mustaliq. Al-Harris bin Dirar, ayah Barrah adalah pemimpin Bani Mustaliq. Barrah telah menjadi tawanan perang milik Sabit bin Qais. Disebabkan Barrah ini seorang perempuan yang cerdik, ia meminta untuk dibebaskan dari Sabit bin Qais, setelah diadakan pembicaraan, Sabit bin Qais meminta tebusan yang mahal.
Tetapi, Barrah waktu itu langsung menemui Rasulullah SAW untuk membicarakan masalah tebusan bagi dirinya. Kemudian Rasulullah SAW pada waktu itu menyetujui membebaskan Barrah dan menebusnya dari Sabit bin Qais dan terus menikahi Barrah dan Rasulullah SAW mengganti nama Barrah menjadi Juwairiyah. Tindakan Rasulullah SAW ini telah memberi banyak faedah kepada umat Islam ketika itu, diantaranya ialah ramai dikalangan Bani Mustaliq yang memeluk Islam dan terpadamnya dendam permusuhan di antara umat Islam dan Bani Mustaliq. Juwairah meninggal dunia pada tahun 56H.

Lihatlah, baru masuk Islam, dirikan masjid dari sabut kelapa untuk solat berjemaah

http://greenboc.blogspot.com,23 Jul 2012

Subhanallah

Orang-orang di Republik Togo, Afrika Barat. Mereka baru saja masuk Islam, kemudian membangunkan masjid ala kadarnya dari sabut kelapa. - Dr. Muhammad al Khudairi

Ulasan GB

Demikian untuk kita renung sejenak di bulan mulia ini.

Orang yang baru menganut Islam, sanggup dengan apa jua keadaannyamendirikan sebuah "masjid"/"surau" dari sabut kelapa untuk mendirikan solat.

Sedangkan kita yang dah lama Islam, malah kebanyakannya dilahirkan sudahpun beragama Islam, masjid sebesar mahligai dengan lantai mosaic & berkarpet lagi, beratap genting berlampu gantung, pun masih ramai yang leka dan lalai mendirikan solat.

Melihat gambar di atas, tidakkah kita mahu menyedari & menginsafi:

"Maka nikmat Allah yang mana hendak kamu dustakan? [Ar-Rahman:13] dan firman Allah lagi

“Hai orang-orang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari pada agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mengasihi mereka dan mereka mengasihi Allah, mereka lemah lembut terhadap orang beriman dan tegas terhadap orang-orang yang ingkar. Mereka berjuang pada jalan Allah, dan tidak takut akan cerca orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya, Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui.”(Al-Maidah:54)

Sabtu, 14 Julai 2012

AKU SUKA AKTIVITI SOSIAL 
DAN KEMASYARAKATAN

Bincang-bincang bersama JK Persatuan Anak Rantau
Sayong Lembah
Agak ganjil dalam usia emas aku masih berminat dalam aktiviti berpersatuan macam dulu-dulu. Dari Tingkatan 3 semasa di bandar kelahiran ku aku telah menjadi pemimpin kepada pergerakan belia di Kuala Kangsar. Sejak itu aku terus bergerak menjadi aktivis dalam bermacam pergerakan sukarela. Pernah menjadi Presiden kepada Pergerakan Belia Dinamik Kuala Lumpur tidak juga berkecuali dalam pergerakan politik hingga aku menjadi Setiausaha Penerangan dan Setiausaha Pilihanraya keAdilan Negeri Perak satu jawatan tertinggi yang pernah aku capai dalam sejarah politik  hidupku.
           Dalam usia menjangkau 60 tahun ini aku masih berminat untuk menjadi Setiausaha kepada Persatuan Anak Rantau Sayong Lembah (Perantau) yang baru saja ditubuhkan beberapa bulan lalu. Dalam politik aku masih terlibat dalam Jawatankuasa PRU P118 Setiawangsa yang dulunya aku menjawat jawatan Setiausaha. 
           Itulah aku yang tak pernah jemu-jemu dalam pergerakan sosial dan kemasyarakatan tetapi sampai saat ini tidak ada satu pun persatuan yang aku pernah berkhidmat itu ambil peduli apabila aku mengalami stroke pada tahun 2009 dan sampai sekarang ini aku masih tidak berdaya untuk mencari rezeki dalam keadaan aku yang tidak lagi mampu bergerak bebas seperti dulu-dulu.